Hukum Menggunakan Minyak Kutus-Kutus

Diasuh oleh: Dr. KH. Maulana Hasanuddin, M.A. (Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat); dan Dr. KH. Abdul Halim Sholeh, M.A. (Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat).

Di suatu daerah banyak orang memilih manfaatkan langkah alami untuk menyembuhkan penyakit dengan alasan lebih manjur dan lebih aman, tanpa pengaruh samping. Salah satu obat herbal yang kini tengah tenar adalah minyak kutus-kutus. Minyak ini diklaim punyai segudang faedah kesehatan dan sanggup membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit. (HalalMUI)

Namun yang terasa mengganjal adalah bahwa minyak kutus-kutus yang khas berasal dari Bali ini, resep ramuannya berasal berasal dari Pawisik atau wangsit, bisikan ghoib/mahluk halus. Dari Info yang didapat, orang yang pertama meramunya jalankan semacam semedi atau tapa, lalu mendapat ilham atau wangsit tentang resep minyak Kutus-kutus tersebut. Sehingga dikatakan bahwa minyak kutus-kutus itu punyai khasiat atau kekuatan gaib untuk menyembuhkan penyakit.

Melihat kondisi ini, bercampur-baur antara khasiat minyak dengan perihal yang diakui sebagai kekuatan ghaib berasal dari wangsit. Lantas, apakah dengan manfaatkan minyak kutus-kutus itu artinya sanggup diakui turut membantu keyakinan pada khasiat atau kekuatan gaib yang diperoleh berasal dari wangsit tersebut, yang dalam agama Islam merupakan anggota berasal dari tingkah laku khurafat atau lebih-lebih sanggup terjerumus pada tingkah laku musyrik Manfaat Minyak Kutus-Kutus .

Sehubungan dengan perihal ini, maka yang terpenting dan utama dalam implementasi sistem sertifikasi halal adalah bahwa bahan-bahan dan pemrosesan untuk membawa dampak minyak itu. Kalau bahan-bahannya halal dan juga suci, tidak mempunyai kandungan najis, dan dalam sistem pembuatannya tidak tersedia kasus dalam perihal kehalalannya, maka secara zhohiri, atau secara lahiriah hukumnya “Maa fii Musykilah”, tidak tersedia masalah. Atau boleh dipergunakan. (HalalMUI)

Berkenaan dengan kasus kekuatan ghaib yang konon diperoleh berasal dari wangsit, maka, yang yakin dan melakoni wangsit atau pawisik itu adalah orang yang meramu dan membawa dampak minyak tersebut. Sedangkan yang memakainya, kecuali tidak mengetahuinya, atau tidak meyakini tentang perihal yang diakui sebagai kekuatan gaib itu, maka perihal itu tidak kasus berasal dari sisi Aqidah maupun Syariah. Dan kami sebagai orang beriman, tentu tidak perlu dan tidak boleh punyai keyakinan pada hal-hal mistis atau khurafat semacam itu.

Sebagai perumpamaan perbandingan, tersedia (banyak) orang manfaatkan tasbih yang dibikin berasal dari China. Lantas sanggup diajukan pertanyaan retoris, boleh atau tidak manfaatkan tasbih berasal dari China itu. Maka sebagai jawabannya, bagi kita, adalah dengan tinjauan fisikal-material, sebagaimana sudah disebutkan itu. Kalau tidak tersedia kasus berasal dari sisi kehalalannya, tidak mempunyai kandungan najis, maka tentu tidak kasus menggunakannya. Kita tidak perlu mempertanyakan masalah-masalah yang diakui mistik, atau ghoib berkaitan dengan para pembuatnya di negeri asalnya. Meskipun mungkin tersedia yang menyatakan, negeri China itu sarat dengan praktek khurafat distributor dan agen minyak kutus kutus .

Atau dalam analogi lain adalah semacam kasus membakar kemenyan. Ada lebih dari satu orang beranggapan membakar kemenyan itu punyai konotasi mistik atau khurafat. Namun menurut para ulama, wabil-khusus di MUI, konotasi-konotasi yang demikianlah itu perlu dihindarkan. Karena kami menentukan hukum secara realitas. Yakni bahwa realitasnya membakar kemenyan itu, di antaranya adalah untuk menghangatkan suasana, mengharumkan ruangan, atau untuk mengusir nyamuk. (HalalMUI)

Sepanjang bahan-bahan untuk membawa dampak kemenyan itu tidak mempunyai kandungan unsur-unsur yang diharamkan, tidak mempunyai kandungan najis, maka pada prinsipnya, manfaatkan kemenyan itu diperbolehkan. Tidak tersedia nash yang melarangnya. Kecuali kecuali lantas ternyata menyebabkan kemudaratan, maka tentu menjadi terlarang sebab mudarat tersebut.

Dalam konteks niat atau lelaku semedi yang diperbuat oleh si peramu minyak kutus-kutus tersebut, sanggup dijelaskan pula bahwa dalam Islam soal niat itu sebetulnya perlu dan menjadi rukun ibadah. Akan namun dalam perihal yang berkaitan dengan kasus hukum, maka tidak perlu tersedia pertimbangan tentang niat sebagai ukuran untuk menentukan benar atau salah; atau halal dan haram.

Dalam kaidah Fiqhiyyah disebutkan lebih-lebih termasuk ditegaskan, “Nahnu nahkumu bi zhawahir, wa-Allahu yatawwalas saraair…wallahu ya’lamu bil batin”. Artinya kami atau kami sebagai manusia cuma menentukan hukum berdasarkan fakta-fakta yang nyata, dan Allah yang Maha Mengetahui tentang rahasia (niat) seorang. Dalam redaksi lain disebutkan, Allah yang Maha Tahu tentang yang batin. (HalalMUI)

Jadi kami berlepas diri berasal dari urusan yang diakui berupa gaib itu. Karena kami menentukan status hukum cuma berdasarkan fakta-fakta yang nyata, atau sebagaimana disebutkan tadi, sistem dan sistem sertifikasi halal oleh MUI itu dilakukan secara objektif. Sedangkan hakikatnya, terpulang kepada Allah jua.

Meskipun demikian, tersedia pula ulama yang berpendapat, kecuali dalam sistem pembuatan minyak itu tersedia unsur-unsur magis, mistik atau khurafat yang melanggar berasal dari sisi Aqidah maupun Syariah. Seperti adanya wangsit atau pawisik yang diterima setelah jalankan semedi atau pertapaan. Sehingga mengarah kepada keyakinan dan tingkah laku syirik yang diharamkan dalam Islam. Maka product selanjutnya tidak boleh dikonsumsi, atau termasuk tidak boleh dipergunakan.

Larangan itu ditegaskan, sebab dikhawatirkan nantinya, pihak pengguna atau pemakainya dapat punyai keyakinan termasuk bahwa khasiat minyak kutus-kutus itu sebab diakui punyai kekuatan gaib sebagaimana dikemukakan oleh si peramu atau pembuatnya. Larangan ini dalam Kaidah Fiqhiyyah disebut sebagai Sadd Adz-Dzari’ah. Yakni menghindar sesuatu tingkah laku sehingga tidak sampai menyebabkan mafsadah (kerusakan). Atau menghindar berasal dari tingkah laku yang dapat menjurus kepada kemaksiatan yang dilarang dalam agama.

Hukum Menggunakan Minyak Kutus-Kutus

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *